Kandela

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya

RAHASIA REYHAN

Angin berhembus kencang. Kukayuh sepedaku menuju sekolah. Jalannya cukup jauh dari rumahku. Mengeluh terkadang, tapi di situlah aku belajar. bersyukur dengan apa yang kupunya. Ada orang-orang yang rela dan masih semangat pergi sekolah menuntut ilmu. Malu. Dengan keadaanku yang berkecukupan, masih diberikan sepeda dan alat-alat tulis yang layak. Tapi mereka yang bahkan masih kesusahan mencari alat tulis yang layak. Pergi kesekolah pun harus melewati jalan menunjak. Berbeda denganku yang diberi kemudahan untuk belajar malah bermalas-malasan.

Sesampainya di sekolah aku memarkirkan sepedaku dan masuk kedalam kelas. Kelasku berada di lantai atas. Setelah masuk kelas aku langsung join dengan teman-temanku untuk ngerumpi. Biasa cewek. Sudah menjadi keseharian alami. Sebagai tempat menjalin persaudaraan jadi lebih dekat, katanya.

Ann, kemarin, gimana soal nye?

Susah, ngeblank dah kemarin, fisika” jawabku pasrah.

Gue lupa satuan besaran pokoknya yang jumlah zat.

Si Reyhan dapat berapa yak?”tanyaku.

Gue denger dapet sembilan puluhan ujian nye

“Tumben,” batinku.

Tak lama kemudian bel berbunyi, dan kelas masih amburadul dengan kegiatan masing-masing di kelas. Sampai terlihat guru dari kejauhan, kita sekelas refleks membubarkan kegiatan masing-masing. Tak da angin tak da hujan, hening seketika. Dasar kelasku. Kelas favoritku.

Setelah istirahat, kami sekelas masuk dan kembali belajar. Pelajaran yang paling merepotkan. Pelajaran yang dapat menghipnotisku mengantuk. Bu Wenda guru matematika dan juga selaku wali kelas kami yang banyak disegani muirid murid lainya. Beliau sudah berumur 53 tahun tapi masih terlihat muda dan berenergi. Orangnya juga disiplin dan suka bercanda. Banyak yang akrab dengan beliau. Meskipun begitu beliau juga tegas dalam pelajaran. Yaa termasuk jam pelajaran ini. Mata Bu Wenda yang selalu mengawasi anak-anak. Tapi untung aku berada di posisi emas. Tak terlalu belakang dan depan. Tempat teraman. Tak terlalu terlihat pandangan guru. Reyhan? Berada di bangku depan? Salah. Dia berada di bangku belakang. Tak tahu dengan isi otaknya tapi selalu mendapat nilai hampir sempurna di semua pelajaran. Selalu berada di perigkat 1 di kelas. Dia juga jarang ditanyai guru waktu pelajaran. Wajahnya juga good looking. Tak heran banyak yang naksir sampai jadi bucin. Dasar, kayak siapa? hehe.

Jarum jam menunjukkan pukul 12.30. bel berbunyi. Anak-anak mulai berhamburan menuju rumah. Aku berpamitan dengan Jia, temanku sejak duduk di bangku TK. Aku naikki sepeda kesayanganku. Jalanan ramai dilewati anak-anak berbaju biru putih sepertiku tuk pulang. Rumah. Tempat ternyaman. tempat untuk berpulang. Beristirahat, setelah disuguhi banyak cobaan.

Aku juga membantu orangtuaku membuat kue. Ibuku membuka toko kue untuk menambah penghasilan dan juga sebagai sarana penyaluran hobi. Kuenya juga enak, sudah dikenal baik di daerah ku. Orderan nya juga lumayan banyak. Ibuku dan adikku biasanya menjadi produsen. Sedangkan aku distributornya.

Assalamualaikum, kataku.

Waalaikum salam,” jawab Andra, adikku.

Andiii, ini ada yang tiga yang dianter nantii” teriak ibuku dari dapur.

Iyaaa,” jawabku menuju kamar.

Orderan hari ini sedikit, alhamdullillah buatku jadi tak capek keliling. Asstaghfirullah untuk ibu’ batinku.

Setelah istirahat yang cukup dan sholat aku segera mengantarkan orderan kue tadi menggunakan sepeda. Dua dari tiga pelanggan setia ini yang kukenal yaitu Bu Ningsih dan Bu Wati. Rumahnya juga agak dekat tapi berliku-liku jalannya. Orderan yang satunya lagi tak ku kenal dan agak jauh. Aku mengirimkannya ke Bu Wati terlebih dahulu yang paling dekat. Kemudian Bu Ningsih lalu orderan terakhir yang jauh itu. Setelah selesai yang terdekat, ku segera mengantarkan yang terakhir. Dalam perjalanan aku melihat banyak truk pengantar barang yang lewat dan kebetulan seperti sama dengan tujuanku. Aku pun mengekori dari belakang sambil melihat peta kecil yang diberikan ibu. Dan benar saja jalan yang aku dan truk lewati sama.

Tak lama kemudian aku sampai di tempat tujuan. Truk itu juga berhenti sama sepertiku. aku menunggu gantian dengan truk itu. Dari jauh ku melihat ada laki-laki yang sedang sibuk menghitung kardus-kardus yang dikeluarkan truk tadi. Aku mengamati lelaki tersebut dari jauh, tampak familiar. Kemudian awak truk tadi berjabat tangan pada lelaki tersebut dan pergi. Aku mendekat ke lelaki tersebut dan benar saja. Itu Reyhan.

Lho, Rey ngapain?”tanyaku
Lho Andi nganter kue ya? Nih uangnya,kata Rayhan
Aku menerima uang tersebut dan memberikan kue pesanannya.

Lagi jaga toko sambil belajar,kata Reyhan

Lho gak ribet tuh ngelakuin 2 hal sekaligus?” tanyaku penasaran.

Enggak sih, udah terbiasa dari kecil gak enak juga udah diandalkan orang tapi akhirnya gagal”
Hooh olimpiade yak?”

Iya”
Yaah Rey kan pintar santai ajaa,jawabku
Mana ada aku cuma lebih banyak belajar, lebih dahulu dari yang lain, gak ada hubungannya sama pintar atau enggaknya” ucap Reyhan sambil menunduk terlihat sedih. Aku merasa bersalah mengatakannya.

Maaf Rey aku gak bermaksud” ucapku lirih

Gapapa tapi plis jangan terlalu mengandalkan orang, gak nyaman gue

Hooh oh yee,” ucap ku ragu-ragu

Maaf kebawa emosi santuy, Ann,kata Rayhan

Iyaa, gapapa maaf jugaa, btw udahan ye makasih,kataku

Hooh ati-ati di jalan,kata Reyhan.

Aku menaiki sepeda hendak pulang ke rumah. Sejak itu aku tak pernah membeda-bedakan orang yang pintar dengan yang tidak. Aku tak tahu betapa susahnya diandalkan banyak orang. Kita tak boleh meremehkan orang lain. Suatu hari orang lain itu bisa saja melebihi kita. Belajarlah merendah sampai tak ada yang merendahkanmu.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Semangat menulis!

01 Jun
Balas

Bergabung bersama komunitas Siswa Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali